Minggu, 25 September 2011

INMEMORIAM



Sr. Maria Priscilla, Agnes Balok, SSpS

Motto: SETIAP ORANG YANG HIDUP DAN YANG PERCAYA KEPADAKU, TIDAK AKAN MATI SELAMA-LAMANYA (YOH. 11:26)


Sr. Maria Priscilla, Agnes Balok, SSpS
Lahir: Kotabot, 01 Agustus 1948
Masuk Postulan: 1966
Novisiat : 1967-1969
Kaul 1 : 16 Juli 1969
Kaul Kekal : 2 juli 1975
Kaul Perak : 2 juli 1994
Pancawindu Kaul: 8 Desember 2009
Meninggal : Halilulik, 23 September 2011
Pemakaman: Halilulik, 25 September 2011 







Sabtu, 24 September 2011

BELU, KABUPATEN PERBATASAN RI-TIMOR LESTE (Sejarah, Kenyataan dan Harapan)

Oleh :  Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho)

Pendahuluan
Kabupaten Belu adalah sebuah kabupaten yang terletak di dataran antara RI Timorleste. Lebih jelas lagi dikatakan bahwa ada hubungan yang sangat kuat, baik hubungan emosi juga hubungan kekeluargaan antara orang Belu dan orang Timor Leste. melalui kawin mawin yang sudah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu, tetapi juga melalui bahasa yang sama. Bahasa Tetum-Portugis, yang kini menjadi bahasa utama di Timor Leste, merupakan hasil simbiosis antara bahasa Tetum Terik di wilayah Belu dengan bahasa Portugis yang telah berlangsung sejak abad 15 yaitu ketika Portugis untuk pertama kalinya mendarat di Lifao, Oecusse, TimorLeste.
Selain bahasa-bahasa di Belu bagian utara seperti bahasa marai, dan kemak juga dipakai di daerah malaina dan bobonaro yang merupakan kerabat, satu turunan. Hubungan kawin mawin antara orang-orang Belu dengan orang timor leste yang berlangsung berabada-abad, telah ikut mengurangi potensi konflik yang besar antara warga kedua negara yang berbeda itu. Demikian juga hubungan kekerabatan antara wilayah Oekucusee dengan Belu dilakukan dengan upaya perkawinan, dengan tercatat pada abad 18 di buku permandian Atapupu, bahwa ada pernikahan antara Raja Jenili dengan puteri raja Oecusse, Dona da Costa.  Melalui hubungan ini, juga telah terjalin harmonisasi sejak berabad-abad dan masyarakat berhasil memelihara kehidupannya tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Melalui tulisan ini, akan dibahas tentang kabupaten Belu, sejarah, kekininan dan masa depan.

Kabupaten Belu

Asal-Usul Nama Belu
Kata Belu sendiri ditafsirkan berasal dari 2 kata. Pertama, berasal dari kata bahasa tetum yakni, belu yang berarti teman dan sahabat. kata ini diberikan karena konon suku belu , sangat ramah, terbuka dan mudah sekali bergaul dengan sesamanya.  Kedua, Kata Belu, berasal dari kata melus, yakni sebutan bagi orang-orang yang suka berperang hingga ke dataran wilayah atoni.


Kamis, 22 September 2011

Tabloid Berita Mingguan "VISTA": Napak Tilas Raja Malaka XV

Tabloid Berita Mingguan "VISTA": Napak Tilas Raja Malaka XV: Kehadiran Raja Malaka XV di Kopan Aulain sejak 6 - 10 September 2011 membuka tabir sejarah perjalanan para raja-raja se-daratan Timor. Kera...

RESENSI BUKU Oleh: Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil








Judul asli: Nusa Tenggara Nach Einrichtung der Kolonialherrschaft 1915 bis 1950
Penulis : I Ketut Ardhana (DR Phil)
Penterjemah: Peusy Sharmaya Intan Paath
Judul Dalam Bahasa Indonesia: PENATAAN NUSA TENGGARA PADA MASA KOLONIAL (1915-1950)
Penerbit: PT Raja Grafindo Persada, 2005, Jakarta
Desain Cover Oleh: Expertoha Studio
Dicetak di Fajar Interpratama Offset
Tebal : 501 Halaman
Sambutan Oleh: Prof. Dr. Bernhard Dahm
Harga Pasaran : Rp 99.000,00

Peringatan kemerdekaan RI ke-66 baru saja lewat. Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan politis yang diproklamasikan Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan momentum yang tak terlupakan dalam sejarah berdirinya RI hingga saat ini. Dalam usianya yang ke-66, tak dapat dipungkiri kita perlu menengok kembali sejarah kemerdekaan yang diperjuangkan dengan blut und boden, darah dan air mata. Sejarah pada prakolonialisme, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, perjuangan mempertahankan RI merupakan fase yang penuh perjuangan heroik.  Buku ini memperkaya pemahaman historis kita mengenai keadaan Nusa Tenggara pada masa prakolonial, kolonial, kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan keberadaan RI pada masyarakat Nusa Tenggara. Sebuah pemahaman historis yang benar akan memperkecil ruang bagi munculnya residu kolonialis dan the white man bourdens. Justeru kita belajar sejarah di kawasan ini sebagai langkah strategis yang berakar dalam sejarah bangsa yang kuat dan beradab demi menumbuhkan semangat untuk menata kemerdekaan kita dengan pembangunan yang berkelajutan.

Kurang lebih sebulan yang lalu, saya berkenalan dengan Mr Donald Tick, dia seorang yang baik hati. Beliau memiliki perhatian besar terhadap budaya Indonesia dan dia telah menjadi bahagian dari budaya Indonesia. Dia  sedang mengumpulkan bahan-bahan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, untuk kemudian dibuatkan buku, ditayangkan pada televisi Belanda dan disimpan pada arsip nasional Belanda. Mr Donald Tick telah jatuh hati pada budaya Indonesia dan telah menikahi  seorang wanita Indonesia dan dia mendorong penelitian tentang informasi keluarga-keluarga raja dan beberapa perkembangan dari sejarah raja-raja waktu yang lampau.
Pembuatan buku The Kingdoms of Indonesia yang sedang disusunnya memerlukan informasi akurat dari para pewaris kerajaan zaman lampau sebelum kolonial, sementara dan sesudah zaman kolonial, yang pernah diangkat sebagai pegawai negeri dengan gaji dan hak-hak tertentu pada masa kolonial. Hingga sekarang ini, telah dipilih para pewaris kerajaan-kerajaan di Indonesia yang dewasa ini berperan sebagai pembina kebudayaan di masing-masing daerah kerajaannya. Tentu keberadaan kerajaan-kerajaan itu telah memerankan dirinya secara lain yakni mereka kini bukanlah pegawai kolonial tetapi mereka telah hidup dalam sebuah zaman kemerdekaan RI, namun tak melepaskan diri dari sejarah kolonial yang pernah hidup di Indonesia hingga tahun 1950. Jadi keberadaan para raja di kerajaan-kerajaan mereka kini, hanyalah sebuah simbol kebudayaan dan kenangan bagi sejarah sendiri. Namun seraya saya toh tidak bisa memungkiri kenyataan sejarah, tentu pertama-tama menjelaskan kepada beliau tentang almarhum kakekku sendiri Moang Bapa Botha da Iry yang merupakan Pemangku Tuan Tanah Besar Halehebing, Flores (1886-1938), bukti, kedudukannya dan peranannya dalam adat kepemilikan tanah. Juga Ayahku yang kuyakini sebagai pewaris terakhir dari Tuan Tanah Besar Halehebing yang perlu dikukuhkan secara adat. Dan juga dari ibuku adalah cucu pertama dari Groot Temoekoens Nurobo, Stanislaus Mali (+1952). Para pewaris tahta ini harus mampu menghafal sekian banyak nama yang merupakan leluhurnya yang berdarah biru, lengkap dengan tahun pemerintahannya, kelahirannya dan sejarah tindakannya semasa hidup. Ini sesuatu yang membutuhkan energi besar, selain bahwa kebanyakan para pewaris itu, kini, bekerja sebagai guru, dosen, polisi/TNI,  pegawai negeri dan pejabat Pemerintahan. Tetapi juga bahwa mayoritas dari antara para raja, pewaris ini, juga mewarisi segala persoalan dari saling tidakcocok yang pernah dibuat leluhurnya pada masa lalu. Ini juga sebagai bukti betapa sejarah tahta dan kekuasaan adalah blut und boden, darah dan air mata. Alhasil saya diminta untuk menghubungi beberapa pewaris tahta di Flores dan Timor Barat, yang terkadang membingungkanku. Tetapi syukurlah bahwa buku ini sangat memberi kita petunjuk ke mana kita berlangkah pada sejarah monarki di kawasan Nusa Tenggara ketika terjadi perjumpaan dengan orang-orang Eropa. Buku PENATAAN NUSA TENGGARA PADA MASA KOLONIAL 1915-1950 telah ikut memperkaya pengetahuan kita tentang kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara sesuai dengan arsip yang dapat diperoleh penulis buku ini di Belanda dan di Eropa. Sebuah buku yang patut dibaca oleh semua insan di Nusa Tenggara, untuk mengingatkan dirinya bahwa negeri ini adalah negeri yang tak akan pernah melupakan sejarah bangsa dan tanah airnya sendiri. Terlebih bagi mereka yang memiliki hubungan dengan sejarah monarki dan peminat sejarah itu sendiri.


Dewasa ini, di Indonesia, kita sedang menghadapi persoalan kepemimpinan nasional yang otentik dan diterima oleh seluruh kalangan bangsa. pemimpin yang lahir, besar, berakar dan mengetahui sejarah peradaban bangsa sejak masa prakolonial, masa kolonial dan masa kemerdekaan RI. Kita berusaha menyelami makna hakiki dari pendirian bangsa yakni Republik Indonesia, yang sejak awal merupakan sebuah negara transnasional di bawah kepemimpinan tradisional kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang pernah berjaya jauh sebelum kedatangan imperielisme di Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.636 pulau yang terletak di antara kepuluan Malaya dan Australia, RI memiliki wilayah seluas 5100 km, terbujur dari arah barat ke timur. Pada masa sekarang, orang menyebut 2 wilayah yakni Kepulauan Sunda Besar (Jawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan Irian Jaya) dan Kepuluan Sunda kecil (Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor serta berbagai pulau kecil di sekitarnya) yang secara keseluruhan memiliki seluas 73.614 km2 (hal.1 dan 2).

Prof Dahm dalam kata pengantarnya  mengemukakan tentang alasan  penguasa kolonial  menaklukkan daerah terpencil dan mengintegrasikannya kedalam wilayah jajahannya yang berhubungan dengan politik aneksasi Belanda menjelang awal abad XX. Juga bahwa penulis berhasil membuktikkan kawasan ini secara geostrategis bagi perkembangan ekonomi dan geopolitik. Ada 2 tafsiran yang mendukung gagasan di atas, sebagaimana ditulis oleh Prof Dahm. Tafsiran pertama oleh pemikiran teoritis dari Gallagher dan Robinson mengenai peralihan kekuasaan dari informal menjadi formal maupun para pemikir imperialisme dari Belanda seperti Wesseling, Kuitenbrouwer dan Locher Scholten, yang melihat perluasan daerah kolonialisme Belanda sebagai REAKSI atas tantangan dari suatu daerah  dari pada AKSI untuk menyatukan kepentingan ekonomi di tanah air. Tafsiran kedua adalah mengikuti teori Wehler mengenai imperealisme sosial, sebagai masalah utama di Eropa, hanya sedikit membantu menjelaskan alasan terbentuknya Residentie van Timor en Onderhoorigheden. Setiap pulau besar di Nusa Tenggara memiliki masalah yang dapat dilihat dalam bab I, mengenai perkembangannya hingga masuknya wilayah tersebut dalam wilayah Hindia Belanda. Sebagai misal, di Timor terjadi persaingan antara Belanda dan Portugis pada pertengahan abad ke-19. Sumbawa memiliki sisa-sisa pengaruh India, sejak abad 17 menjadi pusat aktivitas Islam, yang dalam hubungan dengan penjajahan dilihat sebagai bentuk pengawasan terhadap pulau Flores yang telah dikristenkan sebelumnya. Penduduk Sumba, sebelum menyebar agama Protestan, yang memiliki kepentingan yang berbeda dari sending katolik di Flores pada abad 20, penduduk pulau Sumba dan pulau-pulau kecil lainnya masih menganut animisme. Uraian tentang penataan kekuasaan kolonial terhadap ukuran politik ekonomi yang baru, pengenalan pajak baru, kerja paksa yang pada akhirnya menimbulkan keributan dan pemogokkan, muncul ketidakpuasan dari elit yang baru, yang semula bekerja sama dengan penguasa Belanda. Juga dijelaskan tentang Plakat panjang dan Plakat pendek yang menunjukkan pengakuan penguasa kolonial atas kedaulatan mereka terhadap banyak daerah di Indonesia. Bab 6, berbicara mengenai bidang pendidikan dan munculnya organisasi-organisasi nasionalis. Akibat dari politik etis dalam kebijakan kolonial Belanda adalah penyebarluasan sistem pendidikan di Nusa Tenggara. Juga dijelaskan tentang organisasi politik baru yang dibedakan penulis menjadi kelompok-kelompok beraliran pro-Indonesia, pro-Belanda, komunis dan Islam. Juga dijelaskan tentang Pendudukan Jepang di Nusa Tenggara (1942-1945), kemudian zaman revolusi di Indonesia (1945-1949) dilihat dari pembentukkan negara Indonesia Timur pada bulan Desember 1946. bagaimana kekuatan pro Republik di Nusa Tenggara dipertahankan dan bagaimana kekuatan NIT yang dari luar kelihatan solid namun ternyata lemah di dalam, yang merupakan penyebab keruntuhan pada sebagaian besar negara federasi yang dibentuk Belanda setelah tahun 1949. Hasil telaah dan penggambaran ini menunjukkan bahwa kawasan daerah yang disebutnya eksplisit sebagai kawasan marginal, kawasan pinggiran dan lebih tertinggal dibandingkan dengan kawasan utama yakni pergerakan nasional di Jawa, Sumatra dan sebagainya. Penulis menemukkan sumber berupa dokumen, berita, statistik, buku serta artikel selama melakukan pencarian arsip di Belanda dan melakukan pengujian  materi di berbagai perbagai perpustakaan di negara Eropa lainnya.

Disertasi I Ketut Ardhana ini menunjukkan jalannya berbagai peristiwa di Nusa Tenggara sejak awal kekuasaan kolonial Belanda hingga kemerdekaan RI, harapan mengenai penyatuan Indonesia sudah berakar sejak lama di kawasan yang jauh dari pusat pergerakan Nasional Indonesia pusat ini. Pemikiran-pemikiran Keindonesiaan juga muncul di kawasan yang seringkali dianggap terpecah belah dan memiliki hubungan buruk satu sama yang lain. Namun dalam sejarah tercatat  keberhasilan penduduk Nusa Tenggara mempertahankan diri dari bujukkan kelompok separatis Indoensia Timur untuk membentuk NIT pada masa revolusi.

Awal buku dimulai dengan sambutan Prof Dr Bernhard Dahm, Daftar Tabel, Peta, Daftar Singkatan dan singkatan Bibliografi. Kemudian menyusul Pendahuluan yang di dalamnya dimuat permasalahan dan fokus utama, metode dan landasan teori, Nusa Tenggara sebagai daerah penelitian, sumber-sumber dan Bidang penelitian. Bab I, Tentang perkembangan Nusantara Pada Masa PraKolonial yang dibagi atas beberapa topik yaitu, Fakta geografis dan kekhususan, pengaruh dan interaksi asing di nusa tenggara sebelum kedatangan bangsa Eropa, kemunculan kekuasaan Belanda antara abad 16 hingga abad 19, perekonomian dan masyarakat Nusa tenggara pada awal abad 20 dan kesimpulan. Bab II berisi Aneksasi Nusa Tenggara Ke Dalam Hindia Belanda yang terdiri atas penjelasan tentang Perkembngan di Hindia Belanda, Aksi Militer Kekuasaan Kolonial di Nusa Tenggara dan Kesimpulan. Bab III berisi penataan kolonial di Nusa Tenggara yang meliputi Pasca penaklukkan Nusa Tenggara. Penerapan Perjanjian Plakat Panjang dan perjanjian Plakat pendek di Nusa Tenggara, Pembagian Daerah baru dan penyusunan Administrasi, Reorganisasi Sistem Pajak dan Kerja Paksa dan kesimpulan. Bab IV Berisi Kerja Sama dan Perlawanan Pasca Penataan kekuasaan Kolonial di Nusa Tenggara yang meliputi kolaborasi antara penguasa Lokal dan Belanda, Ketidakpuasan terhadap Otoritas lama di Nusa Tenggara dan Munculnya Pemimpin Rakyat Yang Baru, Gerakan Anti Pajak dan Gerakan anti Kerja Paksa serta kesimpulan. Bab V Berisi Perekonomian dan Masyarakat di Nusa Tenggara setelah penataan kekuasaan kolonial (1915-1942) yang meliputi pertumbuhan Perdagangan, infrastruktur, perkebunan, penanaman padi dan jagung, peternakan, produksi pertambangan (emas,tembaga,perak,mangan,minyak bumi, timah dan timah hitam), Pertumbuhan penduduk dan krisis ekonomi serta kesimpulan. Bab VI berisi Bidang pendidikan dan Munculnya organisasi Nasional pertama Sebagai reaksi dari kekuasaan kolonial di Nusa Tenggara, yang meliputi penjelasan tentang politik etis sebagai perbaikan pendidikan bagi pribumi, Pertumbuhan penduduk dan pembagian agama di nusa tenggara Pada masa Kolonial, Bidang pendidikan sebelum Pendirian pemerintahan kolonial di Nusa Tenggara (1880-1915), kesempatan pendidikan baru Sejak tahun 1913, Bidang pendidikan setelah Pendidirian kekuasaan kolonial (1915-1950), munculnya elite modern di Nusa Tenggara, Munculnya organisasi nasionalis Pertama Sebagai reaksi dari kekuasaan kolonial di Indoensia dan di Nusa tenggara, Beberapa organisasi di Timor dan daerah sekitarnya: sebuah persaingan antara Gagasan Nasionalis, Pro-Belanda, Komunis dan Islam di Nusa Tenggara dan Kesimpulan. Bab VII Berisi Masa Pendudukan Jepang dan dekolonialisasi di Nusa tenggara (1942-1945) yang meliputi Kedatangan Jerpang di timor dan daerah sekitarnya, struktur kekuasaan jepang di timor dan daerah sekitarnya, Timor dan daerah sekitarnya di bawah kekuasaan jepang hingga Proklamasi kemerdekaan RI, Perkembangan Gagasan Kemerdekaan di Timor dan Daerah sekitarnya, Perlawanan Terhadap Jepang dan kesimpulan. Bab VIII Berisi Masa revolusi di Nusa Tenggara (1945-1950) yang meliputi penjelasan tentang gambaran Historis mengenai perkembangan Politik di Indoensia, Perkembangan Nusa Tenggara hingga Perjanjian Denpasar dari Agustus 1945 hingga Desember 1945, Perkembangan di Nusa Tenggara Hingga aksi militer kedua (Januari 1947-Desember 1948), Perkembangan di Nusa tenggara dari keruntuhan Republik Hingga Pengalihan Kedaulatan Desember 1948-desember 1949 serta kesimpulan. Bab IX Berbicara tentang Kesimpulan yang berisi Lampiran-Lampiran, Lampiran 1 hingga Lampiran 11 yang berisi pembagian daerah Swatantra Tk II di NTT (Timor, Flores dan Sumba) dan di NTB dalam Swapraja menurut UU No.69/1958, Daftar Kata Penting, Bibliografi, Tabel, Peta dan singkatan-singkatan.

Buku ini ditulis dengan gaya ceritera atau narasi yang kaya akan pengalaman historis sehingga gampang dipahami dan sangat mudah dimengerti oleh berbagai kalangan: pelajar, dosen, mahasiswa, para sarjana, guru, pensiunan dan seterusnya. Saya menganjurkan agar buku ini selekas mungkin dijadikan salah satu koleksi dalam perpustakaan pribadi dan komunitas anda! Dan dengan demikian anda dapat memiliki bacaan yang cukup bermutu tentang Nusa Tenggara pada masa kolonial. Wassalam.. 







Rabu, 14 September 2011




Aku dilahirkan di Halilulik dengan penuh cinta dari ibuku Yuliana Funan Mali. Aku dibesarkan dengan penuh kehangatan. Ibuku sungguh mencintaiku. Aku berdoa kepada Allahku, agar Allah memberkati ibuku, memberinya kesehatan dan umur yang panjang. seorang ibu yang saleh, setia, sehat dan rajin serta jujur. Ibuku ibarat mutiara yang tak ada bandingannya di dunia ini. Di doa ibuku, kudengar namaku disebutnya. Ibuku sedang posting di rumahnya di Halilulik-Halidikin.Di sebelahnya, laki-laki yang berkaus merah adalah sepupuku, Fransiskus Manek Berek,

Senin, 12 September 2011

Hali, Tempat Perjumpaan dan Sharing Kehidupan


 Oleh: Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil

Hali lulik, secara harafiah berarti Pohon Beringin Keramat (Keramat=memiliki kekuatan gaib), sesungguhnya adalah pusat kosmos dalam ritus kehidupan orang Tetum -Naitimu Belu. Sejak ia lahir, melalui sebuah ritus adat, ari-ari sang bayi, harus disimpan dengan rapih pada pohon Beringin, sebagai tanda perjumpaan dari bayi yang akan berkembang dengan alamnya. Demikian pun ketika untuk pertama kalinya sang bayi diperbolehkan keluar rumah. Sang bayi harus melewati ritus hasai ulun, sebagai ucapan salam untuk boleh keluar rumahnya dan melihat matahari. Pohon Beringin yang disebut Halilulik, sesungguhnya terletak di sebuah kampung yang bernama Nanaerai, pada pertengahan 2010, aku bertemu dengan Ama Leki, sebagai Tetua Suku Asulaho-Naitimu yang juga salah satu kerabatku. Beliau berceritera bahwa di bibir sebuah kali kecil di belakang rumahnya bertumbuh sebuah pohon Beringin raksasa berusia ratusan tahun. Pohon Beringin yang diyakini sebagai Halilulik itu kini tinggal bekasnya saja. Di bawah pohon itu, ia sering menyaksikan leluhurnya bertemu, berceritera dan menjalin relasi yang harmonis dengan sesama klan dan dengan wujud tertinggi, Nai Maromak. Naungan Beringin sering menjadi tempat berteduh kala hari sedang panas, kala matahari sedang terik.

Hali rin diak
Hali leon diak
Leon ita hotu-hotu
Leon husar ida, leon binan ida
Hadahur ita bele

Ada nilai artistik, nilai humanistik, nilai susatra dan nilai religius yang tinggi dibalik nama Hali lulik

NILAI ARTISTIK Ritual tradisional selalu menekankan unsur harmonisasi peran, antara sesama anggota klan, alam dan Allah sendiri. Pada kesempatan itu, sering ditampilkan kisah tentang sejarah suku, kepahlawanan suku, kisah-kisah menarik dari pengembaraan suku hingga sampai di tempat itu. Nyanyian adat berupa pantun, lakmerin, bidu dan likurai, yang penuh unsur artistis di tampilkan. Berbagai ornamen lukisan dihadirkan termasuk kekayaan kain tenun ikat, dan beragam perhiasan dari emas dan perak. Peralatan perang seperti, pedang, lembing/tombak, keris, panah dan busurnya, dihias dengan begitu indah, Inilai artistik yang melingkari keberadaan Beringin di sekitar Rumah Suku, Rumah Pemali.

NILAI HUMANISTIK Kehadiran Pohon Beringin menandai mulainya keakraban dan kebersamaan yang utuh dalam diri sesama klan. Naungannya menjadi tempat orang bermusyawarah kala memutuskan sebuah keputusan yang penting dalam suku. Terlihat ada rasa saling percaya, saling menghormati dan seia sekata. Kemanusiaan yang utuh ditemukan kala orang saling mengakui keberadaan masing-masing individu. Kala orang menyebut nama dari masing-masing pribadi dengan tulus, asli dan tanpa kepalsuan. Di sini, di naungan Beringin ini, anda menemukaan keaslian yang berakar kuat, tak ada kepalsuan, tetapi utuh dan suci.

NILAI SUSASTRA Orang Tetum sejak awal telah merupakan seorang pelantun yang hebat. Ia seorang berjiwa seni yang tinggi. Ia mampu mengungkapkan realitas kehidupannya dalam corak tenunan yang khas. Seluruh peristiwa hidupnya dilukiskan dalam corak tenunan ikatnya. Corak burung Garuda, burung pelikan, naga, merpati, ular, bebungaan, salib merupakan corak yang penuh simbol yang kaya artinya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa kiasan, kadang berbentuk pantun, bahasa yang penuh simbol yang kaya, agar lawan bicaranya tak menemukan sesuatu yang merugikan dirinya, tersinggung atau yang membuatnya marah. Malah, dia akan berkata, Hei feto nee diak tebes atau Mane nee diak tebes.....


NILAI RELIGIUS  Perjumpaannya dengan sesama, alam dan Allah merupakkan pusat kehidupan bagi orang Tetum. Melalui ritus adat, kehidupan memperoleh penguatan dan direstui oleh Allah sendiri. Di sini, orang Tetum mengarahkan diri pada ALLAH yang merupakan pusat seluruh hidupnya. Allah yang mengantar mereka menemukan tanah airnya kini, Rai Belu. Allah yang membuat tanahnya menjadi penuh susu dan madu, seperti juga yang diyakini oleh orang Israel. Inilah tanah perjanjian yang diberikan Allah kepada orang Tetum. Setelah sebelumnya selama waktu yang cukup lama berkelana dari Sina Mutin Malaka, tanah yang telah memberikan mereka makan, hidup dan berbicara dengan Allahnya. Lewat ritus adat semuanya memperoileh restu. Terjadi keharmonisan lagi antara alam, sesama dan Allah sendiri.

Sebuah perjumpaan (begegnen), mengisyaratkan adanya keihklasan hati untuk saling memahami dan mengenal secara utuh dan penuh. Waktu dari lingkaran adat bersifat spiral serentak siklis.  Ia memadukan peranan, mengharmonisasikan peranan serentak memberikkan arti baru dari sebuah peranan. Pertemuan dalam adat memadukan 2 kultur dan pola barat dan timur dalam dirinya sendiri. Itulah karya Allah yang luar biasa dalam diri manusia. Karya Allah dalam diri Kristus, yang memadukkan unsur Kristiani yang mewakili ritus Barat (Romawi, Yunani, Latin, Eropa Barat) dan budaya setempat. Terjadi dialog dan inkulturasi, Allah yang langsung menyapa dalam seluruh hidup, budaya, peristiwa dan pemikiran setempat. Penyelamatan yang berlangsung utuh dan totalitas serta berakar kuat dan dalam.

Demikianlah kekayaan di balik nama Halilulik, Beringin Keramat, Pusat ritus tradisional, pusat pertemuan kosmos , Allah dan manusia dalam kesakraran dan keharmonisan yang utuh dan sempurna. Kerindangannya sebagai pertanda adanya perjumpaan yang penuh damai dan saling memahami tanpa kepalsuan dan asli, karena itu memiliki masa depan dan bersifat universal...


Minggu, 11 September 2011

Menggali Mutiara Yang Terpendam

Oleh: Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil


Ini sebuah judul yang sangat dinantikan oleh pencari mutiara. Kalau kita hidup di darat seperti di Halilulik ini, apakah kita masih menemukan mutiara? Mutiara ini memang berkilat, warnanya jernih dan rupawan. Tetapi kenyataannya benar, dalam hidup manusia yang semakin penuh persaingan dan kepalsuan. Orang telah kehilangan harapan, kehilangan hidup, kehilangan nyali bahkan orang tiba pada stress, frustrasi dan ingin mengakhiri hidup secepatnya. Mutiara kehidupan orang telah hilang dan nilai kehidupan nya menjadi mubasir. Tradisi kehidupan budaya asli Belu adalah mutiara kehidupan yang teramat mahal. Nilainya tak ada takaran dengan uang kertas. Mutiara kehidupan itu adalah tradisi paling asli yang kita miliki. nilai-nilai kultural yang semakin dilupakan. Keharmonisan yang semakin hilang. kedamaian yang semakin pudar. Home, rumah yang semaikin penuh kekacauan dan dusta. tak ada tempat buat kita saling menyapa. Yang ada hanya cemberut dan iri hati serta dengki. Mutiara adalah sebuah bahan yang artistis untuk perhiasan kalung, cincin perhiasan telinga dan seterusnya.  Ada keyakinan bahwa barang siapa yang memakai kalung, dan perhiasan yang terbuat dari mutiara, maka ada kuatan yang akan memancar keluar dari sang pemakai perhiasan itu. kekuatan itu membuat dia tampak berwibawa, dihormati, ketiban rezeki dadakan, dan seterusnya. Singkatnya siapa yang memiliki mutira maka dia akan berbahagia. dewasa ini, mutiara tergolong mahal. satu kalung mutiara misalnya, dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp 2.000.000. Tentu saja judul tulisan di atas hanyalah sebagai kiasan. Sebab tidak mungkin orang menguburkan mutiara di daratan. Jumlah Rp 2 juta, tergolong mahal untuk kantong seorang petani atau buruh. Tetapi kita tetap yakin bahwa mutiara termasuk benda mulia dan berharga, terlebih mutiara memiliki khasiat yang luar biasa bagi para pemakainya.

HALILULIK, NAITIMU DAN DON BISENTI DA COSTA



Oleh : Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil

Asal Kata Halilulik

Kata Halilulik sebenarnya berasal dari kata bahasa Tetum-Naitimu, yakni kata Hali yang berarti pohon Beringin dan kata lulik yang berarti keramat, sakral, suci, memiliki kekuatan supranatural, mitis-magis. Kata ini menunjukkan pada sebuah atau beberapa pohon Beringin raksasa yang dikeramatkan oleh suku asli Naitimu. Diceriterakan bahwa ada sekitar 11 pohon Beringin di tempat ini, yang sangat dikeramatkan warga asli suku tetum-Naitimu yakni, Halilulik, Halibaurenes, Halidikin, Hali Kluhu, Hali Mea, Hali Bot, Hali Modok, Hali Oan, Hali Serin, Hali Metan, Hali Mau Besi. Diantara pohon-pohon Beringin tersebut, Halilulik dikatakan paling disegani warga asli suku karena daya saktinya luar biasa. Ama Leki, tetua suku Asulaho menuturkan kepada penulis pada pertengahan tahun 2010, bahwa di bibir kali di kampung Nanaerai pernah tumbuh pohon Beringin yang berusia ratusan tahun. Nampaknya pohon itu sungguh angker. Dedaunan menghijau di angkasa, batangnya besar dan tinggi. Ada ceritera yang mengisahkan bahwa ada penunggu di pohon tersebut. Penunggunya adalah seekor ular naga yang memiliki lampu yang selalu menyala menyerupai mutiara di malam hari.  Bila Sang Naga keluar untuk memangsa, maka lampu yakni mutiara itu juga dibawa serta. Atau penunggu itu kadang menyerupai seorang gadis yang sering keluar, sang gadis selalu tersenyum tapi tidak bisa bicara. Bila manusia bertemu dengan Naga atau sang gadis penunggu tersebut maka perlu dibuat korban silih, bila tidak dibuat korban silih, maka resikonya manusia itu bisa saja meninggal dunia atau manusia akan menjadi gila. Demikianlah ada banyak ceritera yang berbau mitis-magis di sekitar Halilulik. Ceritera itu mengakibatkan ketakutan yang hebat pada warga kampung Halilulik terhadap kesaktiaan Halilulik. Ceritera itu mengakibatkan tak seorangpun yang berani mendekat apalagi memangkas dedaunannya.Namun bagi masyarakat suku Tetum yang mengetahui cara bersahabat dengan binatang atau penunggu pohon Beringin itu, maka mereka bisa melakukan sesuatu acara adat, dengan demikian dapat memanfaatkan naungan atau sesuatu untuk kepentingan kehidupan mereka.

Halilulik Pasca Perang Nanaet

Ceritera lain berkisah bahwa Halilulik yang sekarang ini merupakan tempat yang ditempati kini, setelah kekalahan dalam perang Nanaet. Masyarakat Naitimu tidak akan melupakan perang Nanaet  yakni perang melawan penjajahan Belanda yang memaksakan kekuasaannya di Naitimu. Para meo yakni panglima perang dari kerajaan Naitimu bahu-membahu berjuang melawan Belanda. Pada awal pertempuran mereka kelihatannya menang melawan Belanda.Tetapi pada akhirnya, mereka terdesak ke benteng Nanaet sebelum akhirnya takluk kepada Belanda. Akhir dari  peperangan, terjadi pemindahan penduduk besar-besaran dari Nanaet. Raja Naitimu yang berada dalam benteng Nanaet juga ikut mengungsi, ia berangkat ke arah Suai-Kovalima. Dia adalah Raja Naitimu aseli yang berasal dari kalangan bangsawan Naitimu tulen, yang disebut Naikukun dari uma Metan-Kukun. Penggganti bangsawan Naitimu yang disebut Nai Kukun Naitimu ini sungguh ada seperti diceriterakan oleh beberapa tetua suku Naitimu. Ia betul-betul raja, ia memiliki hamba dan tak pernah ke luar rumah untuk bekerja di panas matahari. Bangsawan ini hanya berada di dalam naungan. Matanya kebiruan dan kulitnya putih dan ganteng.

Akibat dari perang Nanaet itu sungguh dirasakan baik oleh rakyat Naitimu maupun oleh kalangan bangsawan asli Naitimu. Salah satu ketidakpuasan dari banyak ketidakpuasan adalah pemerintah Belanda tidak mengakomodir bangsawan asli untuk menjadi raja Naitimu. Pemerintah Belanda melakukan campur tangan terhadap istana dengan mengangkat raja-raja faen yakni raja -raja yang berasal dari luar sistem warisan tradisional uma Metan Nanaet-Dubesi. Belanda rupanya mau memperalat kehadiran raja faen itu, untuk kepentingan kolonialnya, agar raja faen itu bekerja demi kepentingan orang kulit putih. Jadi sejak kepergiaan Raja Naitimu yang berjuang bersama para Meonya di Nanaet, sejak saat itu, pengganti raja Naitimu adalah raja faen, artinya raja yang berasal dari kerajaan lain yang diangkat menjadi raja Naitimu. Raja Naitimu terakhir yang menandatangani piagam Plakat Pendek (Korte Verklaring)  adalah raja Fransiskus Manek. Plakat Pendek, ciptaan Dr Snoujk Horgeranje ini dirasakan sangat membebankan penduduk kerajaan. Selain gaji yang diperoleh dari Belanda, raja juga berhak melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil-hasil rayat berupa kayu cendana, penanaman opium, penjualan arak, lilin, lebah, kelapa, jagung, beras, daging hewan yang dipotong misalnya daging babi dan sapi, pemberian ijin untuk judi juga bahwa penduduki wajib membayarkan pajak kepala sebesar 1 gulden perkepala dan seterusnya. selain itu rakyat dipaksa bekerja di rumah raja dan kewajiban menjaga di rumah raja selama beberapa pekan setahun, terasa memberatkan masyarakat. Terjadi ketidak puasaan terhadap kekuasaan Belanda dan Raja Fransiskus Manek, yang sebelumnya adalah seorang Dato. Rakyat Naitimu sebenarnya kurang suka dengan tindakan Raja Fransiskus Manek yang tanpa bermusyawarah menadatangani Korte Verklaring, tambahan juga karena tindakannya mengawini gadis yang berasal dari Cina perantauan, yang waktu itu sudah banyak di wilayah kerajaan Naitimu. Tindakan ini yang kurang disukai karena Orang-orang keturunan Cina dikatakan kurang tahu adat dan kebiasaan kerajaan, seorang cina perantuan, bukan berasal dari keturunan atau kerabat raja. Memang sejarah membuktikan bahwa kebijakkan penandatanganan Plakat Pendek juga gagal dan Raja Frans Manek sendiri sampai meninggal tetap berpihak pada Belanda. Ia kurang kritis terhadap kebijakkan Belanda tersebut dan karena itu raja Frans Manek didikte oleh Belanda. Sepeninggalnya Raja Fransiskus Manek untuk beberapa saat kepemimpinan tahta lowong. Berapa tahun kemudian diadakan pemilihan raja baru di kampung Buitasik, tempat tinggal orang tua almarhum raja frans Manek. Pada kesempatan itu dicalonkan 3 orang calon raja baru yaitu, Nai Ikun Matas atau Vinsensius Atok, yang waktu kepemimpianan raja Frans Manek, menjadi Nai Adat Naitimu, Nai Siprianus Ulu, putera tertua raja Frans dan Baltasar Siri, seorang calon dari Manleten yang selama ini bekerja sebagai guru sekolah rakyat, karena itu disebut nai guru. pemilihan raja itu dimenangkan oleh Nai Guru, dan dia kemudian dilantik menjadi raja baru Naitimu menggantikan raja Frans Manek, pesta pengukuhannya berlangsung meriah.

Sekarang kita beralih ke keadaan masyarakat di bukit Nanaet. Sebelumnya masyarakat suku Tetum tinggal di daerah sekitar bukit Nanaet, yang diyakini merupakan tempat purba dari masyarakat Naitimu, yang merupakan masyarakat asli, Halilulik. Di tempat itu kita menemukan Halilulik juga, yakni Hali yang dikeramatkan oleh leluhur suku Tetum Naitimu.Ceriteranya mirip yang kita dapatkan di tempat yang bernama Halilulik. Bahwa ada penunggu yakni seekor naga yang menjaga liang di pintu masuk Nanaet. Sebelum kita masuk maka orang perlu menyembeli seekor ayam merah agar naga tersebut bisa memberi dia tempat untuk masuk ke dalam gua.



Mencermati Don Bisenti da Costa Sosok Raja Naitimu, Bagaimana Tindakannya dan Akhir Hidup Dari Sang Raja?

Suatu siang pada bulan oktober 1999, sebagai mahasiswa filsafat pada STFK Ledalero, Flores, saya baru saja pulang dalam rangka urusan tugas kemanusiaan pada Team Relawan untuk Masalah Kemanusiaan Flores (TRuK F), sebuah team yang diketuai P DR Hubert Thomas, SVD. Dengan berjalan kaki menyusuri jalan yang berdebu, panas, bebatuan dan berbukit-bukit, saya tiba di rumah tetua adat Naitimu, Ama tuas Paulus Mau di dusun Moro. Seorang kakek yang berperawakan agung dan ramah menyambutku. Aku memperkenalkan diri dan beliau mengang-angguk sambil memepersilahkan aku duduk di balai-balai khas orang Naitimu. Ia menyambutku sebagai layaknya keluarga sendiri, maklumlah karena dari pihak ibuku, aku berasal dari klan Asulaho-Naitimu, sebuah klan asli Naitimu yang juga pemilik Ksadan Nanaet. Dari kakek, kerabatku inilah aku memperoleh informasi dan ceritera tentang sejarah Naitimu, Halilulik dan Don Bisenti da Costa.

Kakek tetua Adat Naitimu yang kini berumur seratus tahun lebih ini, adalah kerabat raja Naitimu, yang darinya aku memperoleh banyak informasi tentang hidup dan akhir hidup dario Don da Costa. Beliau telah melewati banyak periode dalam hidupnya. ia tinggal bersama isterinya di sebuah kampung yang bernama Moro dengan tenang. Ia seorang pemimpin adat yang sangat dihormati dan dicintai warga sekampungnya. Ia rendah hati dan memiliki kedekatan dengan alm. Mgr Jacobus Pesers, SVD, Prefekt Apostolis Atambua, yang berhasil disembunyikannya di kawasan gua  Fatukiik selama perang dunia II.

Inilah  ceritera di sekitar Halilulik. Ada ceritera yang berbau mitis-magis, ada ceritera yang lebih bersifat guyonan bahkan ada ceritera yang berdasarkan analisa ilmiah dari pohon Beringin. Bahkan ada (ini yang aku sukai) bahwa pucuk muda daun Hali alias Halidikin bisa dijadikan sayuran lezat. Rasanya seperti daun muda singkong yang digoreng. Namun rasa daun halidikin yang diberi bumbu sambal tomat, ikan teri membuat lidah terasa nikmat. Ceritera tentang lezatnya sayur Halidikin tidak menutup pembicaraan kita tentang Halilulik sebagai tempat yang sakral. Jelas bahwa naungan pohon beringin ternyata menyimpan mistery yang unik dan suci dalam kesakraran kosmos pulau Timor. Karena Naungan beringin yang sejuk dan harmonis, kerindangan yang teduh dan ramah, telah memungkinkan terjadi dialog penuh iman dalam alam tradisional masyarakat tradisional Belu untuk bertemu dengan Tuhannya yaitu Nai Maromak. Namun justeru Allah telah menunjukkan kasihnya kepada orang-orang Halilulik, mereka tidak boleh diam terus dalam kesakraran, kedamaian dan keharmonisan yang tertutup dalam dirinya sendiri. Inilah kehendak Allah dan ladang yang subur bagi kekeristenan yang kokoh dan kuat. Pater Petrus Noyen, SVD perintis SVD di Nusa Tenggara memutuskan untuk mendirikan rumah SVD di Halilulik. Sang misionaris terpekur dalam kekaguman dan berguman, Aku telah menemukkan tempat yang cocok untuk Gereja Allah. Sejak saat itulah, dengan bantuan Raja Naitimu, Don Bisenti da Costa, dia mendapatkan sebidang tanah di Halilulik untuk dibangun kompleks paroki dan gereja katholik dan biara SVD Timor.

Don Bisenti da Costa adalah putera raja Lidak dari perkawinannya dengan Puteri Raja Jenilu yang kemudian menjadi Ratu Jenilu, namun Ratu yang telah dilantik menjadi Ratu Jenilu, menggantikkan ayahnya Raja Jenilu, itu tidak berada di Jenilu akibat pernikahannya dengan Raja Lidak. Namun Ratu Jenilu selalu memberi satu dua petuah melalui Vetor Jenilu yang sangat berkuasa ketika itu karena Ratu jenilu berada di Lidak bersama suaminya Raja Lidak.Sumber kuat di Atapupu menulis bahwa Vetor Jenilu seorang yang santun, berpendidikan, fasih berbahasa Portugis, Tetum dan Belanda, Beliau sangat berguna bagi karya para pastor Yesuit di Atapupu.

Akhir hidup dari Don Bisenti da Costa sendiri, diceriterakan oleh tetua adat Ama Paulus Mau dari suku Asulaho-Umamalae, yang juga kerabat dari Nai Kukun, bangsawan asli dari keturunan Naitimu,  pada pertengahan 1999, ketika penulis berkunjung ke rumahnya di dusun Moro, sangat mengenaskan. Ama Tuas Mau berceritera bahwa Raja da Costa sebenarnya tidak suka dengan campur tangan orang-orang kulit putih dalam wilayah kerajaan Naitimu. Ia menyesal dan merasa bersalah telah mengijinkan orang-orang kulit putih tinggal di wilayah kerajaannya. Memang dia telah menghibahkan sebidang tanah yang kini berdiri kompleks paroki, gereja, biara SSpS, Rumah Sakit Halilulik, namun dia telah sadar dan merasa menyesal sekali. Teristimewa, akibat dari pemberian tanah tersebut berdatangan banyak orang kulit putih yaitu orang-orang Eropa di Halilulik, karena Halilulik merupakan pusat SVD regio Timor dan Pusat Provinsial SSpS Timor. Dia tidak mau didikte dan diatur oleh orang-orang Eropa. Dalam sebuah pertemuan  di NAMON ULUN yang dihadiri hampir seluruh dato-datonya (pemimpin kampung), ia mengambil kerisnya dan membunuh semua dato-datonya yang duduk di sekitar raja. Setelah menikam mati para datonya, Ia sendiri menikam dirinya sendiri dan meninggal di tempat bersama dato-datonya. Jenasah raja Naitimu yang meninggal dengan cara bunuh diri di NAMON ULUN bersama dato-datonya, tidak bisa dibawah pulang ke Kerajaan Naitimu karena kematian yang tak lazim dan adat tidak mengijinkannya. Maka beliau dimakamkan saja di salah satu tempat bernama NAMON ULUN, bersama dato-datonya yang dibunuh dengan kerisnya sendiri. Itulah meninggalnya raja Naitimu, Don Bisenti da Costa yang sangat tragis dalam sejarah. Dan merupakan puncak ketegangan politis yang luar biasa yang dialami sang raja. Dia rela mengakhiri hidup dengan cara keberanian yang luar biasa.

Latar belakang peristiwa kematian yang tragis dari Don Bisenti da Costa, Raja Naitimu ini digambarkan oleh Tetua Adat Naitimu, Ama Tuas Paulus Mau, sebagai akhir dari sebuah pergumulan yang dasyat dari seorang raja Naitimu, yang berada dalam situasi pelik dan sulit. Situasi sulitnya adalah PERTAMA, Di suatu sisi dia ingin menarik kembali surat penyerahan tanah kepada misi, namun tidak bisa karena misi sudah terlanjur mendirikan biara dan gereja di tanahnya. KEDUA, Di satu sisi, dia tidak bisa menerima kehadiran orang-orang kulit putih di kerajaannya, karena dianggap bisa merampas kemerdekaan bangsanya, menginjak-injak martabat dan harga diri bangsanya dan bahwa kedatangan orang Eropa bisa membahayakan posisinya sebagai raja karena begitu banyak campur tangan yang besar kepada istana/rumah raja. Beliau sebenarnya seorang raja Naitimu yang anti terhadap Belanda atau orang kulit putih, dan bahwa  kenyataannya dia telah menyerahkan tanahnya kepada Serikat Misi dari Steyl, tetapi penyerahannya itu  terjadi karena di bawah "tekanan". Karena di bawah tekanan yang hebatlah, dia telah menyerahkan tanah di Halilulik kepada Serikat Misi dari Steyl tersebut.  Jadi itulah perstiwa tragis dan akhir dari pergumulan seorang Don da Costa, raja Naitimu yang tidak suka terhadap kedatangan orang Eropa tetapi dia sendiri telah menyerahkan tanah dan air kepada misi Eropa.  

 
Halilulik Sebuah Ziarah Menuju Kekekalan

Saya kira Pater Petrus Noyen, SVD juga tahu bahwa SVD bukanlah serikat yang pertama tiba di Timor- Nederland. Jauh-jauh hari, pada abad ke-15, paderi-paderi dari Ordo Dominikan (OP) yang berpusat di Portugis sudah lebih dahulu tiba di Timor Nederland. mereka mempermandikan sekitar 5000 orang Kristen sebelum pulang ke negerinya. Para paderi Ordo Dominikan datang bersama Portugis dan menetap di Oekusi, Solor, Larantuka dan Kupang.

Pemilik asli dari Pulau Timor adalah Sri Paus di Vatikan, Roma. Sri Pauslah yang menyerahkan Timor ke paderi Ordo Dominikan, kemudian ke Yesuit dan terakhir ke SVD. Pastor-pastor Yesuit yang menggantikan tempat paderi Dominikan  memilih tinggal di Atapupu dan Fialaran dan dari sana mereka melakukan tourne ke Halilulik. Kedatangan para imam dan para bruder SVD, serta para suster SSpS membuat Halilulik berkembang menjadi pusat kegiatan Gereja Katolik di Timor Nederland dan menjadi pusat pendidikan pribumi setelah berdirinya Standardschool di Halilulik. Karya Allah terus - menerus melimpah atasnya. di bawah naungan pohon beringin yang sejuk, banyak hal telah terjadi dan dibicarakan. Tempat yang memberikan kesejukan dan oase bagi para peziarah menuju Allah yang memanggilnya. Di bawah naungan Beringin ini, aku besar, bertumbuh, bermain dan melewati masa kanak-kanak dengan ceriah. Aku juga mulai bersekolah di SDK Halilulik, dan SMP HTM Halilulik.
Syair lagu Lakmarein ini, meninggalkan kenangan akan kedamaian Halilulik:

O Hali leon e, Laloran-loran oan
O ras Loro malirin
Teu tanis Laka teu tanis
Tanis naak nian talin ro sina sae ro sina
Manu basa liras
Fitun nain sae
Manu kokorek, rai naroma na
Awan atukklao, ohin kalan kaer keda liman
Awan loron dalan ba ona


Kerindangan Hali yang sejuk, kedamaian dan keharmonisan dalam dekapan alam yang asri nan bersahabat digambarkan dalam syair di atas. Beringin juga menjadi tempat di mana hewan-hewan biasa hidup, burung tekukur, ular, musang, tupai dll. Kini mungkin tinggal kenangan dan ceritera. Kalau dahulu kicauan burung memberi pertanda akan kebahagiaan, kegembiraan dan kemakmuran, kini kicauan burung telah memberi pertanda akan sebuah perpisahan yang terjadi, burung merpati kini menangis karena perpisahaan dengan seseorang yang ingin berlayar jauh ke negeri seberang. Dia menjadi tempat yang ditinggalkan lagi. namun tempat kini, sudah lain,  Kapal dan pesawat seberang akan datang mengambil para penghuninya menjauh, pergi dan tak akan kembali....Namun Sesuatu yang original dan asli selalu memiliki masa depan. Meski ditinggalkan tapi Halilulik tetap Halilulik. Dia adalah tempat yang selalu memberi harapan, kelegaan dan masa depan. Aku sungguh mengagguminya, mengagumi Halilulik, karena di sini, aku menemukan harapan baru, oase baru, ibu Pertiwi yang original dan asli, Tuhan tetap bersama dan memberkatimu, Halilulik......

Halilulik, Hali leon diak
Leon itu bele, leon feto mane
Hali rin diak, hali tahan morin
Fo ami ran malirin, neon diak ba malu
Iha ai, we no moat ba ami hotu-hotu
Iha foho ba, foho leten ba...

Nyanyian dan pantun yang melukiskan keberadaan beringin sebagai pohon perdamaian, kemakmuran dan kebahagiaan terlukis begitu agung dan indah, sekian agungnya nyanyian itu sehingga seakan-akan telah terhubung jalinan antara fohorai dunia dan fohorai atu mai (surgawi) seperti terlihat dalam pantun di atas.  Allah, dilihat sebagai Bapak yang menyediakan tempat di Fohorai atu mai (Surga, tempat janji Allah tergenapi). Ada penetrasi ke dalam Endzeit, waktu penghakiman, akhir zaman, waktu akhir dalam pemikiran orang Tetum. Jika manusia tetap berada dalam keadaan origional dan asli dia akan berbahagia dan tetap bertahan terus, sebaliknya bila manusia berada dalam situasi kepalsuan dia tidak akan bertahan dan memperoleh kebahagiaan. Endzeit berarti ketulusan, origional dan universalitas manusia juga dihayati secara baik oleh suku Tetum. Di dalam endzeit selalu ada unsur kebersamaan, keakraban dan persekutuan. Dosa adalah bila terjadi disharmonisasi, keretakkan jalinan dalam persekutuan kosmis antar manusia, alam dan Allah. Dosa merusak martabat manusia. Alam, manusia, bisa berbalik mencelakan dirinya. Jadi kemanusiaan orang Tetum dihayati secara utuh dan penuh dalam 3 relasi yakni antar manusia, alam dan Allah sendiri.  Kesejukkan relasi terjadi dal;am bingkai keharmonisan relasi yang bermuara pada kasih, cinta. Sebab relasi yang berlandaskan pada kasih memungkin ada unsur kesejukkan dalam pribadi dan dalam persekutuan antar manusia, alam dan Allah. Ada istilah kesiapsiagaan menghadapi waktu endzeit, zaman akhir.