Minggu, 11 September 2011

HALILULIK, NAITIMU DAN DON BISENTI DA COSTA



Oleh : Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil

Asal Kata Halilulik

Kata Halilulik sebenarnya berasal dari kata bahasa Tetum-Naitimu, yakni kata Hali yang berarti pohon Beringin dan kata lulik yang berarti keramat, sakral, suci, memiliki kekuatan supranatural, mitis-magis. Kata ini menunjukkan pada sebuah atau beberapa pohon Beringin raksasa yang dikeramatkan oleh suku asli Naitimu. Diceriterakan bahwa ada sekitar 11 pohon Beringin di tempat ini, yang sangat dikeramatkan warga asli suku tetum-Naitimu yakni, Halilulik, Halibaurenes, Halidikin, Hali Kluhu, Hali Mea, Hali Bot, Hali Modok, Hali Oan, Hali Serin, Hali Metan, Hali Mau Besi. Diantara pohon-pohon Beringin tersebut, Halilulik dikatakan paling disegani warga asli suku karena daya saktinya luar biasa. Ama Leki, tetua suku Asulaho menuturkan kepada penulis pada pertengahan tahun 2010, bahwa di bibir kali di kampung Nanaerai pernah tumbuh pohon Beringin yang berusia ratusan tahun. Nampaknya pohon itu sungguh angker. Dedaunan menghijau di angkasa, batangnya besar dan tinggi. Ada ceritera yang mengisahkan bahwa ada penunggu di pohon tersebut. Penunggunya adalah seekor ular naga yang memiliki lampu yang selalu menyala menyerupai mutiara di malam hari.  Bila Sang Naga keluar untuk memangsa, maka lampu yakni mutiara itu juga dibawa serta. Atau penunggu itu kadang menyerupai seorang gadis yang sering keluar, sang gadis selalu tersenyum tapi tidak bisa bicara. Bila manusia bertemu dengan Naga atau sang gadis penunggu tersebut maka perlu dibuat korban silih, bila tidak dibuat korban silih, maka resikonya manusia itu bisa saja meninggal dunia atau manusia akan menjadi gila. Demikianlah ada banyak ceritera yang berbau mitis-magis di sekitar Halilulik. Ceritera itu mengakibatkan ketakutan yang hebat pada warga kampung Halilulik terhadap kesaktiaan Halilulik. Ceritera itu mengakibatkan tak seorangpun yang berani mendekat apalagi memangkas dedaunannya.Namun bagi masyarakat suku Tetum yang mengetahui cara bersahabat dengan binatang atau penunggu pohon Beringin itu, maka mereka bisa melakukan sesuatu acara adat, dengan demikian dapat memanfaatkan naungan atau sesuatu untuk kepentingan kehidupan mereka.

Halilulik Pasca Perang Nanaet

Ceritera lain berkisah bahwa Halilulik yang sekarang ini merupakan tempat yang ditempati kini, setelah kekalahan dalam perang Nanaet. Masyarakat Naitimu tidak akan melupakan perang Nanaet  yakni perang melawan penjajahan Belanda yang memaksakan kekuasaannya di Naitimu. Para meo yakni panglima perang dari kerajaan Naitimu bahu-membahu berjuang melawan Belanda. Pada awal pertempuran mereka kelihatannya menang melawan Belanda.Tetapi pada akhirnya, mereka terdesak ke benteng Nanaet sebelum akhirnya takluk kepada Belanda. Akhir dari  peperangan, terjadi pemindahan penduduk besar-besaran dari Nanaet. Raja Naitimu yang berada dalam benteng Nanaet juga ikut mengungsi, ia berangkat ke arah Suai-Kovalima. Dia adalah Raja Naitimu aseli yang berasal dari kalangan bangsawan Naitimu tulen, yang disebut Naikukun dari uma Metan-Kukun. Penggganti bangsawan Naitimu yang disebut Nai Kukun Naitimu ini sungguh ada seperti diceriterakan oleh beberapa tetua suku Naitimu. Ia betul-betul raja, ia memiliki hamba dan tak pernah ke luar rumah untuk bekerja di panas matahari. Bangsawan ini hanya berada di dalam naungan. Matanya kebiruan dan kulitnya putih dan ganteng.

Akibat dari perang Nanaet itu sungguh dirasakan baik oleh rakyat Naitimu maupun oleh kalangan bangsawan asli Naitimu. Salah satu ketidakpuasan dari banyak ketidakpuasan adalah pemerintah Belanda tidak mengakomodir bangsawan asli untuk menjadi raja Naitimu. Pemerintah Belanda melakukan campur tangan terhadap istana dengan mengangkat raja-raja faen yakni raja -raja yang berasal dari luar sistem warisan tradisional uma Metan Nanaet-Dubesi. Belanda rupanya mau memperalat kehadiran raja faen itu, untuk kepentingan kolonialnya, agar raja faen itu bekerja demi kepentingan orang kulit putih. Jadi sejak kepergiaan Raja Naitimu yang berjuang bersama para Meonya di Nanaet, sejak saat itu, pengganti raja Naitimu adalah raja faen, artinya raja yang berasal dari kerajaan lain yang diangkat menjadi raja Naitimu. Raja Naitimu terakhir yang menandatangani piagam Plakat Pendek (Korte Verklaring)  adalah raja Fransiskus Manek. Plakat Pendek, ciptaan Dr Snoujk Horgeranje ini dirasakan sangat membebankan penduduk kerajaan. Selain gaji yang diperoleh dari Belanda, raja juga berhak melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil-hasil rayat berupa kayu cendana, penanaman opium, penjualan arak, lilin, lebah, kelapa, jagung, beras, daging hewan yang dipotong misalnya daging babi dan sapi, pemberian ijin untuk judi juga bahwa penduduki wajib membayarkan pajak kepala sebesar 1 gulden perkepala dan seterusnya. selain itu rakyat dipaksa bekerja di rumah raja dan kewajiban menjaga di rumah raja selama beberapa pekan setahun, terasa memberatkan masyarakat. Terjadi ketidak puasaan terhadap kekuasaan Belanda dan Raja Fransiskus Manek, yang sebelumnya adalah seorang Dato. Rakyat Naitimu sebenarnya kurang suka dengan tindakan Raja Fransiskus Manek yang tanpa bermusyawarah menadatangani Korte Verklaring, tambahan juga karena tindakannya mengawini gadis yang berasal dari Cina perantauan, yang waktu itu sudah banyak di wilayah kerajaan Naitimu. Tindakan ini yang kurang disukai karena Orang-orang keturunan Cina dikatakan kurang tahu adat dan kebiasaan kerajaan, seorang cina perantuan, bukan berasal dari keturunan atau kerabat raja. Memang sejarah membuktikan bahwa kebijakkan penandatanganan Plakat Pendek juga gagal dan Raja Frans Manek sendiri sampai meninggal tetap berpihak pada Belanda. Ia kurang kritis terhadap kebijakkan Belanda tersebut dan karena itu raja Frans Manek didikte oleh Belanda. Sepeninggalnya Raja Fransiskus Manek untuk beberapa saat kepemimpinan tahta lowong. Berapa tahun kemudian diadakan pemilihan raja baru di kampung Buitasik, tempat tinggal orang tua almarhum raja frans Manek. Pada kesempatan itu dicalonkan 3 orang calon raja baru yaitu, Nai Ikun Matas atau Vinsensius Atok, yang waktu kepemimpianan raja Frans Manek, menjadi Nai Adat Naitimu, Nai Siprianus Ulu, putera tertua raja Frans dan Baltasar Siri, seorang calon dari Manleten yang selama ini bekerja sebagai guru sekolah rakyat, karena itu disebut nai guru. pemilihan raja itu dimenangkan oleh Nai Guru, dan dia kemudian dilantik menjadi raja baru Naitimu menggantikan raja Frans Manek, pesta pengukuhannya berlangsung meriah.

Sekarang kita beralih ke keadaan masyarakat di bukit Nanaet. Sebelumnya masyarakat suku Tetum tinggal di daerah sekitar bukit Nanaet, yang diyakini merupakan tempat purba dari masyarakat Naitimu, yang merupakan masyarakat asli, Halilulik. Di tempat itu kita menemukan Halilulik juga, yakni Hali yang dikeramatkan oleh leluhur suku Tetum Naitimu.Ceriteranya mirip yang kita dapatkan di tempat yang bernama Halilulik. Bahwa ada penunggu yakni seekor naga yang menjaga liang di pintu masuk Nanaet. Sebelum kita masuk maka orang perlu menyembeli seekor ayam merah agar naga tersebut bisa memberi dia tempat untuk masuk ke dalam gua.



Mencermati Don Bisenti da Costa Sosok Raja Naitimu, Bagaimana Tindakannya dan Akhir Hidup Dari Sang Raja?

Suatu siang pada bulan oktober 1999, sebagai mahasiswa filsafat pada STFK Ledalero, Flores, saya baru saja pulang dalam rangka urusan tugas kemanusiaan pada Team Relawan untuk Masalah Kemanusiaan Flores (TRuK F), sebuah team yang diketuai P DR Hubert Thomas, SVD. Dengan berjalan kaki menyusuri jalan yang berdebu, panas, bebatuan dan berbukit-bukit, saya tiba di rumah tetua adat Naitimu, Ama tuas Paulus Mau di dusun Moro. Seorang kakek yang berperawakan agung dan ramah menyambutku. Aku memperkenalkan diri dan beliau mengang-angguk sambil memepersilahkan aku duduk di balai-balai khas orang Naitimu. Ia menyambutku sebagai layaknya keluarga sendiri, maklumlah karena dari pihak ibuku, aku berasal dari klan Asulaho-Naitimu, sebuah klan asli Naitimu yang juga pemilik Ksadan Nanaet. Dari kakek, kerabatku inilah aku memperoleh informasi dan ceritera tentang sejarah Naitimu, Halilulik dan Don Bisenti da Costa.

Kakek tetua Adat Naitimu yang kini berumur seratus tahun lebih ini, adalah kerabat raja Naitimu, yang darinya aku memperoleh banyak informasi tentang hidup dan akhir hidup dario Don da Costa. Beliau telah melewati banyak periode dalam hidupnya. ia tinggal bersama isterinya di sebuah kampung yang bernama Moro dengan tenang. Ia seorang pemimpin adat yang sangat dihormati dan dicintai warga sekampungnya. Ia rendah hati dan memiliki kedekatan dengan alm. Mgr Jacobus Pesers, SVD, Prefekt Apostolis Atambua, yang berhasil disembunyikannya di kawasan gua  Fatukiik selama perang dunia II.

Inilah  ceritera di sekitar Halilulik. Ada ceritera yang berbau mitis-magis, ada ceritera yang lebih bersifat guyonan bahkan ada ceritera yang berdasarkan analisa ilmiah dari pohon Beringin. Bahkan ada (ini yang aku sukai) bahwa pucuk muda daun Hali alias Halidikin bisa dijadikan sayuran lezat. Rasanya seperti daun muda singkong yang digoreng. Namun rasa daun halidikin yang diberi bumbu sambal tomat, ikan teri membuat lidah terasa nikmat. Ceritera tentang lezatnya sayur Halidikin tidak menutup pembicaraan kita tentang Halilulik sebagai tempat yang sakral. Jelas bahwa naungan pohon beringin ternyata menyimpan mistery yang unik dan suci dalam kesakraran kosmos pulau Timor. Karena Naungan beringin yang sejuk dan harmonis, kerindangan yang teduh dan ramah, telah memungkinkan terjadi dialog penuh iman dalam alam tradisional masyarakat tradisional Belu untuk bertemu dengan Tuhannya yaitu Nai Maromak. Namun justeru Allah telah menunjukkan kasihnya kepada orang-orang Halilulik, mereka tidak boleh diam terus dalam kesakraran, kedamaian dan keharmonisan yang tertutup dalam dirinya sendiri. Inilah kehendak Allah dan ladang yang subur bagi kekeristenan yang kokoh dan kuat. Pater Petrus Noyen, SVD perintis SVD di Nusa Tenggara memutuskan untuk mendirikan rumah SVD di Halilulik. Sang misionaris terpekur dalam kekaguman dan berguman, Aku telah menemukkan tempat yang cocok untuk Gereja Allah. Sejak saat itulah, dengan bantuan Raja Naitimu, Don Bisenti da Costa, dia mendapatkan sebidang tanah di Halilulik untuk dibangun kompleks paroki dan gereja katholik dan biara SVD Timor.

Don Bisenti da Costa adalah putera raja Lidak dari perkawinannya dengan Puteri Raja Jenilu yang kemudian menjadi Ratu Jenilu, namun Ratu yang telah dilantik menjadi Ratu Jenilu, menggantikkan ayahnya Raja Jenilu, itu tidak berada di Jenilu akibat pernikahannya dengan Raja Lidak. Namun Ratu Jenilu selalu memberi satu dua petuah melalui Vetor Jenilu yang sangat berkuasa ketika itu karena Ratu jenilu berada di Lidak bersama suaminya Raja Lidak.Sumber kuat di Atapupu menulis bahwa Vetor Jenilu seorang yang santun, berpendidikan, fasih berbahasa Portugis, Tetum dan Belanda, Beliau sangat berguna bagi karya para pastor Yesuit di Atapupu.

Akhir hidup dari Don Bisenti da Costa sendiri, diceriterakan oleh tetua adat Ama Paulus Mau dari suku Asulaho-Umamalae, yang juga kerabat dari Nai Kukun, bangsawan asli dari keturunan Naitimu,  pada pertengahan 1999, ketika penulis berkunjung ke rumahnya di dusun Moro, sangat mengenaskan. Ama Tuas Mau berceritera bahwa Raja da Costa sebenarnya tidak suka dengan campur tangan orang-orang kulit putih dalam wilayah kerajaan Naitimu. Ia menyesal dan merasa bersalah telah mengijinkan orang-orang kulit putih tinggal di wilayah kerajaannya. Memang dia telah menghibahkan sebidang tanah yang kini berdiri kompleks paroki, gereja, biara SSpS, Rumah Sakit Halilulik, namun dia telah sadar dan merasa menyesal sekali. Teristimewa, akibat dari pemberian tanah tersebut berdatangan banyak orang kulit putih yaitu orang-orang Eropa di Halilulik, karena Halilulik merupakan pusat SVD regio Timor dan Pusat Provinsial SSpS Timor. Dia tidak mau didikte dan diatur oleh orang-orang Eropa. Dalam sebuah pertemuan  di NAMON ULUN yang dihadiri hampir seluruh dato-datonya (pemimpin kampung), ia mengambil kerisnya dan membunuh semua dato-datonya yang duduk di sekitar raja. Setelah menikam mati para datonya, Ia sendiri menikam dirinya sendiri dan meninggal di tempat bersama dato-datonya. Jenasah raja Naitimu yang meninggal dengan cara bunuh diri di NAMON ULUN bersama dato-datonya, tidak bisa dibawah pulang ke Kerajaan Naitimu karena kematian yang tak lazim dan adat tidak mengijinkannya. Maka beliau dimakamkan saja di salah satu tempat bernama NAMON ULUN, bersama dato-datonya yang dibunuh dengan kerisnya sendiri. Itulah meninggalnya raja Naitimu, Don Bisenti da Costa yang sangat tragis dalam sejarah. Dan merupakan puncak ketegangan politis yang luar biasa yang dialami sang raja. Dia rela mengakhiri hidup dengan cara keberanian yang luar biasa.

Latar belakang peristiwa kematian yang tragis dari Don Bisenti da Costa, Raja Naitimu ini digambarkan oleh Tetua Adat Naitimu, Ama Tuas Paulus Mau, sebagai akhir dari sebuah pergumulan yang dasyat dari seorang raja Naitimu, yang berada dalam situasi pelik dan sulit. Situasi sulitnya adalah PERTAMA, Di suatu sisi dia ingin menarik kembali surat penyerahan tanah kepada misi, namun tidak bisa karena misi sudah terlanjur mendirikan biara dan gereja di tanahnya. KEDUA, Di satu sisi, dia tidak bisa menerima kehadiran orang-orang kulit putih di kerajaannya, karena dianggap bisa merampas kemerdekaan bangsanya, menginjak-injak martabat dan harga diri bangsanya dan bahwa kedatangan orang Eropa bisa membahayakan posisinya sebagai raja karena begitu banyak campur tangan yang besar kepada istana/rumah raja. Beliau sebenarnya seorang raja Naitimu yang anti terhadap Belanda atau orang kulit putih, dan bahwa  kenyataannya dia telah menyerahkan tanahnya kepada Serikat Misi dari Steyl, tetapi penyerahannya itu  terjadi karena di bawah "tekanan". Karena di bawah tekanan yang hebatlah, dia telah menyerahkan tanah di Halilulik kepada Serikat Misi dari Steyl tersebut.  Jadi itulah perstiwa tragis dan akhir dari pergumulan seorang Don da Costa, raja Naitimu yang tidak suka terhadap kedatangan orang Eropa tetapi dia sendiri telah menyerahkan tanah dan air kepada misi Eropa.  

 
Halilulik Sebuah Ziarah Menuju Kekekalan

Saya kira Pater Petrus Noyen, SVD juga tahu bahwa SVD bukanlah serikat yang pertama tiba di Timor- Nederland. Jauh-jauh hari, pada abad ke-15, paderi-paderi dari Ordo Dominikan (OP) yang berpusat di Portugis sudah lebih dahulu tiba di Timor Nederland. mereka mempermandikan sekitar 5000 orang Kristen sebelum pulang ke negerinya. Para paderi Ordo Dominikan datang bersama Portugis dan menetap di Oekusi, Solor, Larantuka dan Kupang.

Pemilik asli dari Pulau Timor adalah Sri Paus di Vatikan, Roma. Sri Pauslah yang menyerahkan Timor ke paderi Ordo Dominikan, kemudian ke Yesuit dan terakhir ke SVD. Pastor-pastor Yesuit yang menggantikan tempat paderi Dominikan  memilih tinggal di Atapupu dan Fialaran dan dari sana mereka melakukan tourne ke Halilulik. Kedatangan para imam dan para bruder SVD, serta para suster SSpS membuat Halilulik berkembang menjadi pusat kegiatan Gereja Katolik di Timor Nederland dan menjadi pusat pendidikan pribumi setelah berdirinya Standardschool di Halilulik. Karya Allah terus - menerus melimpah atasnya. di bawah naungan pohon beringin yang sejuk, banyak hal telah terjadi dan dibicarakan. Tempat yang memberikan kesejukan dan oase bagi para peziarah menuju Allah yang memanggilnya. Di bawah naungan Beringin ini, aku besar, bertumbuh, bermain dan melewati masa kanak-kanak dengan ceriah. Aku juga mulai bersekolah di SDK Halilulik, dan SMP HTM Halilulik.
Syair lagu Lakmarein ini, meninggalkan kenangan akan kedamaian Halilulik:

O Hali leon e, Laloran-loran oan
O ras Loro malirin
Teu tanis Laka teu tanis
Tanis naak nian talin ro sina sae ro sina
Manu basa liras
Fitun nain sae
Manu kokorek, rai naroma na
Awan atukklao, ohin kalan kaer keda liman
Awan loron dalan ba ona


Kerindangan Hali yang sejuk, kedamaian dan keharmonisan dalam dekapan alam yang asri nan bersahabat digambarkan dalam syair di atas. Beringin juga menjadi tempat di mana hewan-hewan biasa hidup, burung tekukur, ular, musang, tupai dll. Kini mungkin tinggal kenangan dan ceritera. Kalau dahulu kicauan burung memberi pertanda akan kebahagiaan, kegembiraan dan kemakmuran, kini kicauan burung telah memberi pertanda akan sebuah perpisahan yang terjadi, burung merpati kini menangis karena perpisahaan dengan seseorang yang ingin berlayar jauh ke negeri seberang. Dia menjadi tempat yang ditinggalkan lagi. namun tempat kini, sudah lain,  Kapal dan pesawat seberang akan datang mengambil para penghuninya menjauh, pergi dan tak akan kembali....Namun Sesuatu yang original dan asli selalu memiliki masa depan. Meski ditinggalkan tapi Halilulik tetap Halilulik. Dia adalah tempat yang selalu memberi harapan, kelegaan dan masa depan. Aku sungguh mengagguminya, mengagumi Halilulik, karena di sini, aku menemukan harapan baru, oase baru, ibu Pertiwi yang original dan asli, Tuhan tetap bersama dan memberkatimu, Halilulik......

Halilulik, Hali leon diak
Leon itu bele, leon feto mane
Hali rin diak, hali tahan morin
Fo ami ran malirin, neon diak ba malu
Iha ai, we no moat ba ami hotu-hotu
Iha foho ba, foho leten ba...

Nyanyian dan pantun yang melukiskan keberadaan beringin sebagai pohon perdamaian, kemakmuran dan kebahagiaan terlukis begitu agung dan indah, sekian agungnya nyanyian itu sehingga seakan-akan telah terhubung jalinan antara fohorai dunia dan fohorai atu mai (surgawi) seperti terlihat dalam pantun di atas.  Allah, dilihat sebagai Bapak yang menyediakan tempat di Fohorai atu mai (Surga, tempat janji Allah tergenapi). Ada penetrasi ke dalam Endzeit, waktu penghakiman, akhir zaman, waktu akhir dalam pemikiran orang Tetum. Jika manusia tetap berada dalam keadaan origional dan asli dia akan berbahagia dan tetap bertahan terus, sebaliknya bila manusia berada dalam situasi kepalsuan dia tidak akan bertahan dan memperoleh kebahagiaan. Endzeit berarti ketulusan, origional dan universalitas manusia juga dihayati secara baik oleh suku Tetum. Di dalam endzeit selalu ada unsur kebersamaan, keakraban dan persekutuan. Dosa adalah bila terjadi disharmonisasi, keretakkan jalinan dalam persekutuan kosmis antar manusia, alam dan Allah. Dosa merusak martabat manusia. Alam, manusia, bisa berbalik mencelakan dirinya. Jadi kemanusiaan orang Tetum dihayati secara utuh dan penuh dalam 3 relasi yakni antar manusia, alam dan Allah sendiri.  Kesejukkan relasi terjadi dal;am bingkai keharmonisan relasi yang bermuara pada kasih, cinta. Sebab relasi yang berlandaskan pada kasih memungkin ada unsur kesejukkan dalam pribadi dan dalam persekutuan antar manusia, alam dan Allah. Ada istilah kesiapsiagaan menghadapi waktu endzeit, zaman akhir.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar