Oleh: Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil
Ini sebuah judul yang sangat dinantikan oleh pencari mutiara. Kalau kita hidup di darat seperti di Halilulik ini, apakah kita masih menemukan mutiara? Mutiara ini memang berkilat, warnanya jernih dan rupawan. Tetapi kenyataannya benar, dalam hidup manusia yang semakin penuh persaingan dan kepalsuan. Orang telah kehilangan harapan, kehilangan hidup, kehilangan nyali bahkan orang tiba pada stress, frustrasi dan ingin mengakhiri hidup secepatnya. Mutiara kehidupan orang telah hilang dan nilai kehidupan nya menjadi mubasir. Tradisi kehidupan budaya asli Belu adalah mutiara kehidupan yang teramat mahal. Nilainya tak ada takaran dengan uang kertas. Mutiara kehidupan itu adalah tradisi paling asli yang kita miliki. nilai-nilai kultural yang semakin dilupakan. Keharmonisan yang semakin hilang. kedamaian yang semakin pudar. Home, rumah yang semaikin penuh kekacauan dan dusta. tak ada tempat buat kita saling menyapa. Yang ada hanya cemberut dan iri hati serta dengki. Mutiara adalah sebuah bahan yang artistis untuk perhiasan kalung, cincin perhiasan telinga dan seterusnya. Ada keyakinan bahwa barang siapa yang memakai kalung, dan perhiasan yang terbuat dari mutiara, maka ada kuatan yang akan memancar keluar dari sang pemakai perhiasan itu. kekuatan itu membuat dia tampak berwibawa, dihormati, ketiban rezeki dadakan, dan seterusnya. Singkatnya siapa yang memiliki mutira maka dia akan berbahagia. dewasa ini, mutiara tergolong mahal. satu kalung mutiara misalnya, dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp 2.000.000. Tentu saja judul tulisan di atas hanyalah sebagai kiasan. Sebab tidak mungkin orang menguburkan mutiara di daratan. Jumlah Rp 2 juta, tergolong mahal untuk kantong seorang petani atau buruh. Tetapi kita tetap yakin bahwa mutiara termasuk benda mulia dan berharga, terlebih mutiara memiliki khasiat yang luar biasa bagi para pemakainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar