Kamis, 22 September 2011

RESENSI BUKU Oleh: Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil








Judul asli: Nusa Tenggara Nach Einrichtung der Kolonialherrschaft 1915 bis 1950
Penulis : I Ketut Ardhana (DR Phil)
Penterjemah: Peusy Sharmaya Intan Paath
Judul Dalam Bahasa Indonesia: PENATAAN NUSA TENGGARA PADA MASA KOLONIAL (1915-1950)
Penerbit: PT Raja Grafindo Persada, 2005, Jakarta
Desain Cover Oleh: Expertoha Studio
Dicetak di Fajar Interpratama Offset
Tebal : 501 Halaman
Sambutan Oleh: Prof. Dr. Bernhard Dahm
Harga Pasaran : Rp 99.000,00

Peringatan kemerdekaan RI ke-66 baru saja lewat. Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan politis yang diproklamasikan Ir Soekarno dan Drs Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan momentum yang tak terlupakan dalam sejarah berdirinya RI hingga saat ini. Dalam usianya yang ke-66, tak dapat dipungkiri kita perlu menengok kembali sejarah kemerdekaan yang diperjuangkan dengan blut und boden, darah dan air mata. Sejarah pada prakolonialisme, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, perjuangan mempertahankan RI merupakan fase yang penuh perjuangan heroik.  Buku ini memperkaya pemahaman historis kita mengenai keadaan Nusa Tenggara pada masa prakolonial, kolonial, kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan keberadaan RI pada masyarakat Nusa Tenggara. Sebuah pemahaman historis yang benar akan memperkecil ruang bagi munculnya residu kolonialis dan the white man bourdens. Justeru kita belajar sejarah di kawasan ini sebagai langkah strategis yang berakar dalam sejarah bangsa yang kuat dan beradab demi menumbuhkan semangat untuk menata kemerdekaan kita dengan pembangunan yang berkelajutan.

Kurang lebih sebulan yang lalu, saya berkenalan dengan Mr Donald Tick, dia seorang yang baik hati. Beliau memiliki perhatian besar terhadap budaya Indonesia dan dia telah menjadi bahagian dari budaya Indonesia. Dia  sedang mengumpulkan bahan-bahan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, untuk kemudian dibuatkan buku, ditayangkan pada televisi Belanda dan disimpan pada arsip nasional Belanda. Mr Donald Tick telah jatuh hati pada budaya Indonesia dan telah menikahi  seorang wanita Indonesia dan dia mendorong penelitian tentang informasi keluarga-keluarga raja dan beberapa perkembangan dari sejarah raja-raja waktu yang lampau.
Pembuatan buku The Kingdoms of Indonesia yang sedang disusunnya memerlukan informasi akurat dari para pewaris kerajaan zaman lampau sebelum kolonial, sementara dan sesudah zaman kolonial, yang pernah diangkat sebagai pegawai negeri dengan gaji dan hak-hak tertentu pada masa kolonial. Hingga sekarang ini, telah dipilih para pewaris kerajaan-kerajaan di Indonesia yang dewasa ini berperan sebagai pembina kebudayaan di masing-masing daerah kerajaannya. Tentu keberadaan kerajaan-kerajaan itu telah memerankan dirinya secara lain yakni mereka kini bukanlah pegawai kolonial tetapi mereka telah hidup dalam sebuah zaman kemerdekaan RI, namun tak melepaskan diri dari sejarah kolonial yang pernah hidup di Indonesia hingga tahun 1950. Jadi keberadaan para raja di kerajaan-kerajaan mereka kini, hanyalah sebuah simbol kebudayaan dan kenangan bagi sejarah sendiri. Namun seraya saya toh tidak bisa memungkiri kenyataan sejarah, tentu pertama-tama menjelaskan kepada beliau tentang almarhum kakekku sendiri Moang Bapa Botha da Iry yang merupakan Pemangku Tuan Tanah Besar Halehebing, Flores (1886-1938), bukti, kedudukannya dan peranannya dalam adat kepemilikan tanah. Juga Ayahku yang kuyakini sebagai pewaris terakhir dari Tuan Tanah Besar Halehebing yang perlu dikukuhkan secara adat. Dan juga dari ibuku adalah cucu pertama dari Groot Temoekoens Nurobo, Stanislaus Mali (+1952). Para pewaris tahta ini harus mampu menghafal sekian banyak nama yang merupakan leluhurnya yang berdarah biru, lengkap dengan tahun pemerintahannya, kelahirannya dan sejarah tindakannya semasa hidup. Ini sesuatu yang membutuhkan energi besar, selain bahwa kebanyakan para pewaris itu, kini, bekerja sebagai guru, dosen, polisi/TNI,  pegawai negeri dan pejabat Pemerintahan. Tetapi juga bahwa mayoritas dari antara para raja, pewaris ini, juga mewarisi segala persoalan dari saling tidakcocok yang pernah dibuat leluhurnya pada masa lalu. Ini juga sebagai bukti betapa sejarah tahta dan kekuasaan adalah blut und boden, darah dan air mata. Alhasil saya diminta untuk menghubungi beberapa pewaris tahta di Flores dan Timor Barat, yang terkadang membingungkanku. Tetapi syukurlah bahwa buku ini sangat memberi kita petunjuk ke mana kita berlangkah pada sejarah monarki di kawasan Nusa Tenggara ketika terjadi perjumpaan dengan orang-orang Eropa. Buku PENATAAN NUSA TENGGARA PADA MASA KOLONIAL 1915-1950 telah ikut memperkaya pengetahuan kita tentang kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara sesuai dengan arsip yang dapat diperoleh penulis buku ini di Belanda dan di Eropa. Sebuah buku yang patut dibaca oleh semua insan di Nusa Tenggara, untuk mengingatkan dirinya bahwa negeri ini adalah negeri yang tak akan pernah melupakan sejarah bangsa dan tanah airnya sendiri. Terlebih bagi mereka yang memiliki hubungan dengan sejarah monarki dan peminat sejarah itu sendiri.


Dewasa ini, di Indonesia, kita sedang menghadapi persoalan kepemimpinan nasional yang otentik dan diterima oleh seluruh kalangan bangsa. pemimpin yang lahir, besar, berakar dan mengetahui sejarah peradaban bangsa sejak masa prakolonial, masa kolonial dan masa kemerdekaan RI. Kita berusaha menyelami makna hakiki dari pendirian bangsa yakni Republik Indonesia, yang sejak awal merupakan sebuah negara transnasional di bawah kepemimpinan tradisional kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang pernah berjaya jauh sebelum kedatangan imperielisme di Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.636 pulau yang terletak di antara kepuluan Malaya dan Australia, RI memiliki wilayah seluas 5100 km, terbujur dari arah barat ke timur. Pada masa sekarang, orang menyebut 2 wilayah yakni Kepulauan Sunda Besar (Jawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan Irian Jaya) dan Kepuluan Sunda kecil (Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor serta berbagai pulau kecil di sekitarnya) yang secara keseluruhan memiliki seluas 73.614 km2 (hal.1 dan 2).

Prof Dahm dalam kata pengantarnya  mengemukakan tentang alasan  penguasa kolonial  menaklukkan daerah terpencil dan mengintegrasikannya kedalam wilayah jajahannya yang berhubungan dengan politik aneksasi Belanda menjelang awal abad XX. Juga bahwa penulis berhasil membuktikkan kawasan ini secara geostrategis bagi perkembangan ekonomi dan geopolitik. Ada 2 tafsiran yang mendukung gagasan di atas, sebagaimana ditulis oleh Prof Dahm. Tafsiran pertama oleh pemikiran teoritis dari Gallagher dan Robinson mengenai peralihan kekuasaan dari informal menjadi formal maupun para pemikir imperialisme dari Belanda seperti Wesseling, Kuitenbrouwer dan Locher Scholten, yang melihat perluasan daerah kolonialisme Belanda sebagai REAKSI atas tantangan dari suatu daerah  dari pada AKSI untuk menyatukan kepentingan ekonomi di tanah air. Tafsiran kedua adalah mengikuti teori Wehler mengenai imperealisme sosial, sebagai masalah utama di Eropa, hanya sedikit membantu menjelaskan alasan terbentuknya Residentie van Timor en Onderhoorigheden. Setiap pulau besar di Nusa Tenggara memiliki masalah yang dapat dilihat dalam bab I, mengenai perkembangannya hingga masuknya wilayah tersebut dalam wilayah Hindia Belanda. Sebagai misal, di Timor terjadi persaingan antara Belanda dan Portugis pada pertengahan abad ke-19. Sumbawa memiliki sisa-sisa pengaruh India, sejak abad 17 menjadi pusat aktivitas Islam, yang dalam hubungan dengan penjajahan dilihat sebagai bentuk pengawasan terhadap pulau Flores yang telah dikristenkan sebelumnya. Penduduk Sumba, sebelum menyebar agama Protestan, yang memiliki kepentingan yang berbeda dari sending katolik di Flores pada abad 20, penduduk pulau Sumba dan pulau-pulau kecil lainnya masih menganut animisme. Uraian tentang penataan kekuasaan kolonial terhadap ukuran politik ekonomi yang baru, pengenalan pajak baru, kerja paksa yang pada akhirnya menimbulkan keributan dan pemogokkan, muncul ketidakpuasan dari elit yang baru, yang semula bekerja sama dengan penguasa Belanda. Juga dijelaskan tentang Plakat panjang dan Plakat pendek yang menunjukkan pengakuan penguasa kolonial atas kedaulatan mereka terhadap banyak daerah di Indonesia. Bab 6, berbicara mengenai bidang pendidikan dan munculnya organisasi-organisasi nasionalis. Akibat dari politik etis dalam kebijakan kolonial Belanda adalah penyebarluasan sistem pendidikan di Nusa Tenggara. Juga dijelaskan tentang organisasi politik baru yang dibedakan penulis menjadi kelompok-kelompok beraliran pro-Indonesia, pro-Belanda, komunis dan Islam. Juga dijelaskan tentang Pendudukan Jepang di Nusa Tenggara (1942-1945), kemudian zaman revolusi di Indonesia (1945-1949) dilihat dari pembentukkan negara Indonesia Timur pada bulan Desember 1946. bagaimana kekuatan pro Republik di Nusa Tenggara dipertahankan dan bagaimana kekuatan NIT yang dari luar kelihatan solid namun ternyata lemah di dalam, yang merupakan penyebab keruntuhan pada sebagaian besar negara federasi yang dibentuk Belanda setelah tahun 1949. Hasil telaah dan penggambaran ini menunjukkan bahwa kawasan daerah yang disebutnya eksplisit sebagai kawasan marginal, kawasan pinggiran dan lebih tertinggal dibandingkan dengan kawasan utama yakni pergerakan nasional di Jawa, Sumatra dan sebagainya. Penulis menemukkan sumber berupa dokumen, berita, statistik, buku serta artikel selama melakukan pencarian arsip di Belanda dan melakukan pengujian  materi di berbagai perbagai perpustakaan di negara Eropa lainnya.

Disertasi I Ketut Ardhana ini menunjukkan jalannya berbagai peristiwa di Nusa Tenggara sejak awal kekuasaan kolonial Belanda hingga kemerdekaan RI, harapan mengenai penyatuan Indonesia sudah berakar sejak lama di kawasan yang jauh dari pusat pergerakan Nasional Indonesia pusat ini. Pemikiran-pemikiran Keindonesiaan juga muncul di kawasan yang seringkali dianggap terpecah belah dan memiliki hubungan buruk satu sama yang lain. Namun dalam sejarah tercatat  keberhasilan penduduk Nusa Tenggara mempertahankan diri dari bujukkan kelompok separatis Indoensia Timur untuk membentuk NIT pada masa revolusi.

Awal buku dimulai dengan sambutan Prof Dr Bernhard Dahm, Daftar Tabel, Peta, Daftar Singkatan dan singkatan Bibliografi. Kemudian menyusul Pendahuluan yang di dalamnya dimuat permasalahan dan fokus utama, metode dan landasan teori, Nusa Tenggara sebagai daerah penelitian, sumber-sumber dan Bidang penelitian. Bab I, Tentang perkembangan Nusantara Pada Masa PraKolonial yang dibagi atas beberapa topik yaitu, Fakta geografis dan kekhususan, pengaruh dan interaksi asing di nusa tenggara sebelum kedatangan bangsa Eropa, kemunculan kekuasaan Belanda antara abad 16 hingga abad 19, perekonomian dan masyarakat Nusa tenggara pada awal abad 20 dan kesimpulan. Bab II berisi Aneksasi Nusa Tenggara Ke Dalam Hindia Belanda yang terdiri atas penjelasan tentang Perkembngan di Hindia Belanda, Aksi Militer Kekuasaan Kolonial di Nusa Tenggara dan Kesimpulan. Bab III berisi penataan kolonial di Nusa Tenggara yang meliputi Pasca penaklukkan Nusa Tenggara. Penerapan Perjanjian Plakat Panjang dan perjanjian Plakat pendek di Nusa Tenggara, Pembagian Daerah baru dan penyusunan Administrasi, Reorganisasi Sistem Pajak dan Kerja Paksa dan kesimpulan. Bab IV Berisi Kerja Sama dan Perlawanan Pasca Penataan kekuasaan Kolonial di Nusa Tenggara yang meliputi kolaborasi antara penguasa Lokal dan Belanda, Ketidakpuasan terhadap Otoritas lama di Nusa Tenggara dan Munculnya Pemimpin Rakyat Yang Baru, Gerakan Anti Pajak dan Gerakan anti Kerja Paksa serta kesimpulan. Bab V Berisi Perekonomian dan Masyarakat di Nusa Tenggara setelah penataan kekuasaan kolonial (1915-1942) yang meliputi pertumbuhan Perdagangan, infrastruktur, perkebunan, penanaman padi dan jagung, peternakan, produksi pertambangan (emas,tembaga,perak,mangan,minyak bumi, timah dan timah hitam), Pertumbuhan penduduk dan krisis ekonomi serta kesimpulan. Bab VI berisi Bidang pendidikan dan Munculnya organisasi Nasional pertama Sebagai reaksi dari kekuasaan kolonial di Nusa Tenggara, yang meliputi penjelasan tentang politik etis sebagai perbaikan pendidikan bagi pribumi, Pertumbuhan penduduk dan pembagian agama di nusa tenggara Pada masa Kolonial, Bidang pendidikan sebelum Pendirian pemerintahan kolonial di Nusa Tenggara (1880-1915), kesempatan pendidikan baru Sejak tahun 1913, Bidang pendidikan setelah Pendidirian kekuasaan kolonial (1915-1950), munculnya elite modern di Nusa Tenggara, Munculnya organisasi nasionalis Pertama Sebagai reaksi dari kekuasaan kolonial di Indoensia dan di Nusa tenggara, Beberapa organisasi di Timor dan daerah sekitarnya: sebuah persaingan antara Gagasan Nasionalis, Pro-Belanda, Komunis dan Islam di Nusa Tenggara dan Kesimpulan. Bab VII Berisi Masa Pendudukan Jepang dan dekolonialisasi di Nusa tenggara (1942-1945) yang meliputi Kedatangan Jerpang di timor dan daerah sekitarnya, struktur kekuasaan jepang di timor dan daerah sekitarnya, Timor dan daerah sekitarnya di bawah kekuasaan jepang hingga Proklamasi kemerdekaan RI, Perkembangan Gagasan Kemerdekaan di Timor dan Daerah sekitarnya, Perlawanan Terhadap Jepang dan kesimpulan. Bab VIII Berisi Masa revolusi di Nusa Tenggara (1945-1950) yang meliputi penjelasan tentang gambaran Historis mengenai perkembangan Politik di Indoensia, Perkembangan Nusa Tenggara hingga Perjanjian Denpasar dari Agustus 1945 hingga Desember 1945, Perkembangan di Nusa Tenggara Hingga aksi militer kedua (Januari 1947-Desember 1948), Perkembangan di Nusa tenggara dari keruntuhan Republik Hingga Pengalihan Kedaulatan Desember 1948-desember 1949 serta kesimpulan. Bab IX Berbicara tentang Kesimpulan yang berisi Lampiran-Lampiran, Lampiran 1 hingga Lampiran 11 yang berisi pembagian daerah Swatantra Tk II di NTT (Timor, Flores dan Sumba) dan di NTB dalam Swapraja menurut UU No.69/1958, Daftar Kata Penting, Bibliografi, Tabel, Peta dan singkatan-singkatan.

Buku ini ditulis dengan gaya ceritera atau narasi yang kaya akan pengalaman historis sehingga gampang dipahami dan sangat mudah dimengerti oleh berbagai kalangan: pelajar, dosen, mahasiswa, para sarjana, guru, pensiunan dan seterusnya. Saya menganjurkan agar buku ini selekas mungkin dijadikan salah satu koleksi dalam perpustakaan pribadi dan komunitas anda! Dan dengan demikian anda dapat memiliki bacaan yang cukup bermutu tentang Nusa Tenggara pada masa kolonial. Wassalam.. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar