Senin, 12 September 2011

Hali, Tempat Perjumpaan dan Sharing Kehidupan


 Oleh: Blasius Mengkaka (da Iry-Asulaho), S.Fil

Hali lulik, secara harafiah berarti Pohon Beringin Keramat (Keramat=memiliki kekuatan gaib), sesungguhnya adalah pusat kosmos dalam ritus kehidupan orang Tetum -Naitimu Belu. Sejak ia lahir, melalui sebuah ritus adat, ari-ari sang bayi, harus disimpan dengan rapih pada pohon Beringin, sebagai tanda perjumpaan dari bayi yang akan berkembang dengan alamnya. Demikian pun ketika untuk pertama kalinya sang bayi diperbolehkan keluar rumah. Sang bayi harus melewati ritus hasai ulun, sebagai ucapan salam untuk boleh keluar rumahnya dan melihat matahari. Pohon Beringin yang disebut Halilulik, sesungguhnya terletak di sebuah kampung yang bernama Nanaerai, pada pertengahan 2010, aku bertemu dengan Ama Leki, sebagai Tetua Suku Asulaho-Naitimu yang juga salah satu kerabatku. Beliau berceritera bahwa di bibir sebuah kali kecil di belakang rumahnya bertumbuh sebuah pohon Beringin raksasa berusia ratusan tahun. Pohon Beringin yang diyakini sebagai Halilulik itu kini tinggal bekasnya saja. Di bawah pohon itu, ia sering menyaksikan leluhurnya bertemu, berceritera dan menjalin relasi yang harmonis dengan sesama klan dan dengan wujud tertinggi, Nai Maromak. Naungan Beringin sering menjadi tempat berteduh kala hari sedang panas, kala matahari sedang terik.

Hali rin diak
Hali leon diak
Leon ita hotu-hotu
Leon husar ida, leon binan ida
Hadahur ita bele

Ada nilai artistik, nilai humanistik, nilai susatra dan nilai religius yang tinggi dibalik nama Hali lulik

NILAI ARTISTIK Ritual tradisional selalu menekankan unsur harmonisasi peran, antara sesama anggota klan, alam dan Allah sendiri. Pada kesempatan itu, sering ditampilkan kisah tentang sejarah suku, kepahlawanan suku, kisah-kisah menarik dari pengembaraan suku hingga sampai di tempat itu. Nyanyian adat berupa pantun, lakmerin, bidu dan likurai, yang penuh unsur artistis di tampilkan. Berbagai ornamen lukisan dihadirkan termasuk kekayaan kain tenun ikat, dan beragam perhiasan dari emas dan perak. Peralatan perang seperti, pedang, lembing/tombak, keris, panah dan busurnya, dihias dengan begitu indah, Inilai artistik yang melingkari keberadaan Beringin di sekitar Rumah Suku, Rumah Pemali.

NILAI HUMANISTIK Kehadiran Pohon Beringin menandai mulainya keakraban dan kebersamaan yang utuh dalam diri sesama klan. Naungannya menjadi tempat orang bermusyawarah kala memutuskan sebuah keputusan yang penting dalam suku. Terlihat ada rasa saling percaya, saling menghormati dan seia sekata. Kemanusiaan yang utuh ditemukan kala orang saling mengakui keberadaan masing-masing individu. Kala orang menyebut nama dari masing-masing pribadi dengan tulus, asli dan tanpa kepalsuan. Di sini, di naungan Beringin ini, anda menemukaan keaslian yang berakar kuat, tak ada kepalsuan, tetapi utuh dan suci.

NILAI SUSASTRA Orang Tetum sejak awal telah merupakan seorang pelantun yang hebat. Ia seorang berjiwa seni yang tinggi. Ia mampu mengungkapkan realitas kehidupannya dalam corak tenunan yang khas. Seluruh peristiwa hidupnya dilukiskan dalam corak tenunan ikatnya. Corak burung Garuda, burung pelikan, naga, merpati, ular, bebungaan, salib merupakan corak yang penuh simbol yang kaya artinya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa kiasan, kadang berbentuk pantun, bahasa yang penuh simbol yang kaya, agar lawan bicaranya tak menemukan sesuatu yang merugikan dirinya, tersinggung atau yang membuatnya marah. Malah, dia akan berkata, Hei feto nee diak tebes atau Mane nee diak tebes.....


NILAI RELIGIUS  Perjumpaannya dengan sesama, alam dan Allah merupakkan pusat kehidupan bagi orang Tetum. Melalui ritus adat, kehidupan memperoleh penguatan dan direstui oleh Allah sendiri. Di sini, orang Tetum mengarahkan diri pada ALLAH yang merupakan pusat seluruh hidupnya. Allah yang mengantar mereka menemukan tanah airnya kini, Rai Belu. Allah yang membuat tanahnya menjadi penuh susu dan madu, seperti juga yang diyakini oleh orang Israel. Inilah tanah perjanjian yang diberikan Allah kepada orang Tetum. Setelah sebelumnya selama waktu yang cukup lama berkelana dari Sina Mutin Malaka, tanah yang telah memberikan mereka makan, hidup dan berbicara dengan Allahnya. Lewat ritus adat semuanya memperoileh restu. Terjadi keharmonisan lagi antara alam, sesama dan Allah sendiri.

Sebuah perjumpaan (begegnen), mengisyaratkan adanya keihklasan hati untuk saling memahami dan mengenal secara utuh dan penuh. Waktu dari lingkaran adat bersifat spiral serentak siklis.  Ia memadukan peranan, mengharmonisasikan peranan serentak memberikkan arti baru dari sebuah peranan. Pertemuan dalam adat memadukan 2 kultur dan pola barat dan timur dalam dirinya sendiri. Itulah karya Allah yang luar biasa dalam diri manusia. Karya Allah dalam diri Kristus, yang memadukkan unsur Kristiani yang mewakili ritus Barat (Romawi, Yunani, Latin, Eropa Barat) dan budaya setempat. Terjadi dialog dan inkulturasi, Allah yang langsung menyapa dalam seluruh hidup, budaya, peristiwa dan pemikiran setempat. Penyelamatan yang berlangsung utuh dan totalitas serta berakar kuat dan dalam.

Demikianlah kekayaan di balik nama Halilulik, Beringin Keramat, Pusat ritus tradisional, pusat pertemuan kosmos , Allah dan manusia dalam kesakraran dan keharmonisan yang utuh dan sempurna. Kerindangannya sebagai pertanda adanya perjumpaan yang penuh damai dan saling memahami tanpa kepalsuan dan asli, karena itu memiliki masa depan dan bersifat universal...


3 komentar:

  1. Ehm... Sangat menarik bagi saya seorang jkt bisa mengetahui asal nama kampung halaman ortu.

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas tanggapanmu, jasmine. Rajinlah membaca dan mencari informasi, pastilah akan sangat bermanfaat dan berguna bagi kehidupanmu. Salam sukses ke jakarta

    BalasHapus
  3. Kunjungi juga Situsku di BLASMKM.COM

    BalasHapus